HIV dan AIDS Pada Ibu Hamil Serta Cara Penanganannya

Posted on

Pengertian HIV dan AIDS

HIV (human immunodeficiency virus) merupakan virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4 (Sel CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit yang merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh disebut sebagai sel-T).

Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit. Meski obat atau metode penanganan HIV belum ditemukan, dengan menjalani pengobatan tertentu, pengidap HIV bisa memperlambat perkembangan penyakit ini, sehingga pengidap HIV bisa menjalani hidup dengan normal. Pengobatan berupa terapi antiretroviral (ARV), ARV bekerja mencegah virus HIV bertambah banyak sehingga tidak menyerang sistem kekebalan tubuh.

HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.

Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta ASI. Perlu diketahui, HIV tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, atau sentuhan fisik. HIV adalah penyakit seumur hidup. Dengan kata lain, virus HIV akan menetap di dalam tubuh penderita seumur hidupnya.

Secara umum berikut merupakan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV ialah sebagai berikut:

  1. Berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan tanpa menggunakan pengaman
  2. Menggunakan jarum suntik bersama-sama
  3. Melakukan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan cairan tubuh manusia tanpa menggunakan alat pengaman diri yang cukup

 

Penyakit HIV dan AIDS Pada Ibu Hamil

Berbicara tentang HIV dan AIDS pada ibu hamil bukanlah persoalan kecil yang bisa diabaikan. Pasalnya, ibu hamil yang positif terinfeksi HIV berpeluang besar menularkan mereka kepada bayinya sejak masih dalam kandungan. Lantas, apa yang jadi penyebab penularan HIV pada ibu hamil dan apa risikonya bagi calon bayi mereka? Mari sama-sama simak penjelasan di bawah ini!

Penyebab HIV dan AIDS Pada Ibu Hamil

HIV merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus. Virus ini menyerang sel T (sel CD4) dalam sistem imun yang tugas utamanya adalah melawan infeksi. Virus penyebab HIV menyebar dari satu orang ke lainnya lewat pertukaran cairan tubuh seperti darah, air mani (sperma), cairan pra-ejakulasi, dan cairan vagina yang notabene sangat lumrah terjadi saat hubungan seksual. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan tahun 2017, ada kenaikan jumlah kasus HIV baru pada ibu rumah tangga. Seperti dikutip dari The Jakarta Post, Emi Yuliana dari Komisi Pencegahan AIDS di Surabaya mengatakan jumlah ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS lebih banyak ketimbang kelompok wanita pekerja seks komersil.

Besarnya angka ini kemungkinan dipengaruhi oleh kerutinan berhubungan seksual dengan suami yang positif HIV (baik terdiagnosis dan diketahui, maupun tidak). Penetrasi penis ke vagina tanpa kondom merupakan jalur penularan HIV yang paling umum di antara pasangan heteroseksual (lelaki yang berhubungan seks dengan perempuan). Setelah masuk dalam tubuh, virus dapat tetap aktif menginfeksi tapi tidak menunjukkan gejala HIV/AIDS yang berarti selama setidaknya 10-15 tahun. Selama masa ini, seorang ibu rumah tangga bisa saja tidak pernah mengetahui bahwa dirinya terjangkit HIV hingga pada akhirnya positif hamil. Selain dari hubungan seks, seorang perempuan juga bisa terinfeksi HIV dari penggunaan jarum suntik tidak steril sewaktu sebelum hamil.

 

Dampak Buruk Infeksi HIV Pada Ibu Hamil dan Bayi

Sistem imun yang lemah atau rusak akibat infeksi HIV kronis dapat membuat ibu hamil sangat rentan terhadap infeksi oportunistik, seperti pneumonia, toksoplasmosis, tuberkulosis (TBC), penyakit kelamin, hingga kanker. Kumpulan penyakit ini menandakan bahwa HIV telah berkembang menjadi penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Pengidap HIV yang telah memiliki AIDS biasanya dapat bertahan hidup sekitar 3 tahun jika tidak mendapatkan pengobatan. Tanpa penanganan medis yang tepat, masing-masing dari infeksi tersebut juga berisiko menyebabkan komplikasinya tersendiri pada kesehatan tubuh serta kehamilan. Ambil contoh toksoplasmosis. Parasit penyebab penyakit ini dapat menginfeksi bayi lewat plasenta sehingga menyebabkan keguguran, bayi lahir mati (stillbirth), dan dampak buruk lainnya bagi ibu dan bayi.

Bahaya HIV pada ibu hamil dan bayinya tidak cuma itu. Ibu hamil yang terdiagnosis positif HIV juga dapat menularkan infeksinya pada bayi di dalam kandungan lewat plasenta. Tanpa pengobatan, seorang ibu hamil yang positif HIV berisiko sekitar 25-30% untuk menularkan virus pada anaknya selama kehamilan. Penularan HIV dari ibu hamil pada anaknya juga dapat terjadi selama proses persalinan normal, apabila bayi terpapar darah, cairan ketuban yang pecah, cairan vagina, atau cairan tubuh ibu lainnya. Selain itu, penularan HIV dari ibu kepada bayinya juga dapat berlangsung selama masa menyusui eksklusif karena HIV dapat ditularkan melalui ASI. HIV dari ibu juga dapat ditularkan pada bayinya melalui makanan yang terlebih dulu dikunyahkan oleh ibu meski risikonya sangatlah rendah.

Tes HIV Pada Ibu Hamil

Jika ibu terkena HIV saat hamil atau sudah mengidapnya sejak sebelum kehamilan, konsultasikan ke dokter. Dokter akan menganjurkan ibu untuk secepatnya menjalani tes HIV langsung pada jadwal cek kandungan pertama jika memungkinkan. Tes HIV lanjutan juga akan direkomendasikan dokter di trimester ketiga kehamilan dan setelah kelahiran bayi. Tes HIV pada ibu hamil yang paling umum adalah test antibodi HIV. Tes antibodi HIV bertujuan mencari antibodi HIV pada sampel darah. Antibodi HIV merupakan sejenis protein yang diproduksi tubuh untuk menanggapi infeksi virus.

HIV pada ibu hamil baru bisa benar-benar dipastikan ketika mendapat hasil positif dari tes antibodi HIV. Tes kedua berupa tes konfirmasi HIV dilakukan untuk memastikan bahwa orang tersebut memang benar terinfeksi oleh HIV. Jika tes kedua juga positif, berarti ibu positif terinfeksi HIV selama kehamilan. Pemeriksaan HIV pada ibu hamil juga bisa mengidentifikasi keberadaan penyakit menular seksual lainnya, seperti hepatitis C dan sifilis. Selain itu, suami juga harus menjalani tes HIV.

Pengobatan HIV Pada Ibu Hamil

Seorang ibu yang mengetahui ia terinfeksi HIV pada awal kehamilannya memiliki waktu lebih untuk mulai merencanakan pengobatan demi melindungi kesehatan dirinya, pasangannya, dan bayinya. Pengobatan HIV secara umum dilakukan lewat terapi obat antiretroviral (ART). Kombinasi obat ini dapat mengendalikan atau bahkan menurunkan jumlah viral load HIV pada darah ibu hamil. Seiring waktu, kerutinan menjalani pengobatan HIV dapat meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan infeksi. Patuh terhadap terapi ART juga memungkinkan ibu hamil mencegah penularan infeksi HIV pada bayi dan pasangannya. Beberapa obat anti-HIV telah dilaporkan dapat tersalurkan dari ibu hamil ke bayi dalam kandungan melalui plasenta (ari-ari). Obat anti-HIV dalam tubuh bayi membantu melindunginya dari infeksi HIV.

 

Pencegahan Penularan HIV dari Ibu Hamil Kepada Bayi

Untungnya, ibu hamil dapat menekan risiko penularan pada bayinya dengan menerapkan langkah pencegahan HIV yang tepat. Dengan pengobatan dan rencana yang tepat, risiko penularan HIV dari ibu hamil pada bayi bisa dikurangi sebanyak 2 persen sepanjang masa kehamilan, persalinan, melahirkan, dan menyusui. Apabila hasil dari tes HIV ibu positif, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan HIV ke bayi.

  • Minum obat secara rutin dan tepat. Jika ibu didiagnosis dengan HIV selama kehamilan, direkomendasikan untuk segera memulai perawatan dan terus melanjutkannya setiap hari. Pengobatan HIV pada ibu hamil perlu dilakukan sesegera mungkin setelah ibu hamil terdiagnosis mengidap HIV. Namun, obat antiretroviral tidak hanya digunakan selama masa kehamilan saja. Untuk mengatasi gejala HIV sekaligus munculnya penyakit komplikasi HIV, pengobatan HIV pada ibu hamil perlu dijalani seumur hidup. Pengobatan juga tidak hanya ditujukan pada ibu hamil saja. Setelah kelahiran, bayinya juga akan diberikan obat HIV selama 4 hingga 6 minggu untuk mengurangi risiko infeksi dari HIV yang mungkin masuk ke dalam tubuh bayi selama proses kelahiran.
  • Melindungi bayi selama persalinan berlangsung. Jika ibu sudah mulai rutin jalani pengobatan sejak jauh sebelum kehamilan, ada kemungkinan bahwa viral load sudah tidak terdeteksi dalam darah. Hal ini artinya ibu dapat merencanakan persalinan normal melalui vagina karena risiko penularan HIV kepada bayi selama persalinan akan sangat kecil. Namun jika dokter melihat ibu masih berisiko menularkan virus pada bayi, ibu akan disarankan untuk bersalin lewat operasi caesar. Prosedur ini memiliki risiko yang lebih kecil terhadap penularan HIV pada bayi dibandingkan dengan persalinan normal melalui vagina.
  • Melindungi bayi selama mengASIhi. ASI mengandung virus HIV. Pada umumnya dokter akan menyarankan ibu untuk menyusui bayi dengan susu formula. Namun jika ibu ingin menyusui ASI eksklusif, ibu harus selalu ingat untuk terus rutin menggunakan pengobatan selama setidaknya 6 bulan.

Sekian penjelasan dari saya, semoga bermanfaat dan jangan pernah sungkan konsultasi ke dokter apapun keluhan yang dirasakan ibu hamil ataupun ibu yang belum hamil jika merasa memiliki gejala-gejala yang menuju pada virus HIV. Agar segera mendapatkan pertolongan yang tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *