Postpartum Depression atau Depresi Pasca Melahirkan Serta Cara Penanganannya

Posted on

Pengertian Postpartum Depression

Postpartum depression atau depresi pasca melahirkan adalah depresi atau keadaan ketika seorang ibu merasakan rasa sedih, bersalah, dan bentuk umum depresi lainnya dalam jangka waktu yang lama setelah melahirkan. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia di otak ibu pasca melahirkan.

Postpartum depression tentu beda dengan baby blues. Baby blues merupakan perubahan emosi (mood swing) yang umumnya menyebabkan ibu menangis terus-menerus, cemas, hingga sulit tidur selama beberapa hari hingga 2 minggu setelah bayi lahir. Sedangkan postpartum depression merupakan kondisi yang lebih parah dibandingkan dengan baby blues. Postpartum depression membuat ibu merasa putus harapan, merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik, sampai tidak mau mengurus anak. Baby blues yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi postpartum depression.

Postpartum depression bukan hanya dialami oleh ibu, tetapi juga bisa dialami oleh ayah. Postpartum depression pada ayah paling sering terjadi 3-6 bulan setelah bayi lahir. Seorang ayah lebih rentan terkena postpartum depression ketika istrinya juga menderita kondisi tersebut.

Gejala Postpartum Depression

Gejala postpartum depression atau depresi pasca melahirkan dapat terjadi pada awal kehamilan, beberapa minggu sesudah melahirkan, atau hingga setahun sesudah bayi lahir. Ketika mengalami postpartum depression, seseorang akan mengalami gejala-gejala berikut ini:

  1. Ibu merasa cepat lelah atau tidak bertenaga.
  2. Hilangnya semangat hidup
  3. Ibu selalu berbicara negatif
  4. Ibu mudah tersinggung dan marah.
  5. Ibu menangis terus-menerus.
  6. Ibu merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.
  7. Ibu mengalami perubahan suasana hati yang drastis.
  8. Ibu kehilangan nafsu makan atau justru makan lebih banyak dari biasanya dan enggan merawat diri sendiri.
  9. Ibu tidak dapat tidur (insomnia) atau tidur terlalu lama.
  10. Ibu sulit berpikiran jernih, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan.
  11. Ibu tidak ingin bersosialisasi dengan teman dan keluarga.
  12. Ibu kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasa disukainya.
  13. Ibu merasa putus asa.
  14. Kesulitan merasakan ikatan batin dengan sang bayi.
  15. Ibu merasa kesulitan atau enggan merawat dan berinteraksi dengan bayi
  16. Adanya perasaan bersalah dan tidak pantas menjadi ibu
  17. Ibu berpikir untuk melukai dirinya sendiri atau bayinya.
  18. Terus merasa khawatir dan berpikir bahwa ada sesuatu yang salah pada bayi
  19. Ibu mempunyai pikiran tentang kematian dan ingin bunuh diri.

Sangat wajar jika seorang ibu yang baru melahirkan merasa lelah, cemas, dan kurang bersemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Hal itu disebabkan oleh penurunan hormon serta perubahan zat kimia di dalam otak. Namun, segera konsultasikan dengan dokter jika Ibu merasa depresi hingga lebih dari 2 minggu setelah melahirkan. Apalagi jika perasaan tersebut membuat ibu kesulitan mengurus bayi dan menjalani aktivitas sehari-hari. Disini sangat dibutuhkan peran suami dan keluarga untuk berinisiatif membawa ibu konsultasi dengan dokter. Penderita depresi postpartum tetap perlu melakukan kontrol rutin ke dokter, meskipun sudah tidak merasakan gejala setelah pengobatan, sebab pengobatan postpartum depression bisa berlangsung hingga beberapa bulan.

Penyebab Postpartum Depression

Postpartum depression tidak disebabkan oleh satu faktor penyebab saja. Biasanya kondisi ini disebabkan oleh kombinasi faktor fisik dan emosional.

  • Perubahan hormonal. Kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh akan menurun drastis pada wanita setelah melahirkan. Penurunan kadar kedua hormon ini menyebabkan wanita lebih sensitif, mudah mengalami perubahan suasana hati, dan kondisi emosional menjadi tidak stabil.
  • Masalah psikologis. Sebagai seorang ibu, wanita tentunya memiliki tuntutan dan tanggung jawab baru untuk mengurus dan merawat bayi. Hal ini dapat menimbulkan tekanan dan menyebabkan stres, terutama jika kurang mendapat dukungan pasangan dan orang terdekat saat melahirkan dan merawat bayi.
  • Masalah sosial. Selain masalah psikologis, masalah sosial juga bisa menjadi faktor penyebab terjadinya depresi pascamelahirkan. Mengalami kejadian yang membuat stres, seperti masalah keuangan, konflik dengan anggota keluarga, atau kematian orang terdekat, dapat membuat wanita lebih rentan terkena depresi ini.

Tidak hanya itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami depresi postpartum, di antaranya:

  1. Pernah menderita depresi sebelum atau selama
  2. Menderita gangguan bipolar.
  3. Ada anggota keluarga yang menderita depresi.
  4. Menyalahgunakan NAPZA.
  5. Kesulitan menyusui bayi
  6. Hamil di usia muda dan memiliki banyak anak.
  7. Kondisi fisik lemah pascamelahirkan
  8. Kesulitan dalam mengurus bayi
  9. Bayi mengalami masalah kesehatan, misalnya terlahir prematur
  10. Gangguan kesehatan pascamelahirkan, seperti nyeri bekas jahitan atau gangguan buang air kecil
  11. Melalui proses persalinan yang sulit.

 

Cara Menangani Postpartum Depression

Mendatangi Psikolog atau Psikiater

  • Depresi pascamelahirkan akan lebih mudah untuk disembuhkan jika terdeteksi sejak dini dan segera mendapatkan penanganan. Psikolog atau psikiater salah satu langkah pertama yang dapat diambil untuk penderita postpartum depression. Psikolog atau psikiater akan menanyakan gejala yang dialami pasien, sekaligus melakukan wawancara mendalam mengenai perasaan dan pikiran pasien. Hal ini dilakukan untuk memeriksa kondisi mental pasien, sekaligus memastikan bahwa pasien mengalami depresi pospartum.
  • Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui gejala postpartum depression, misalnya untuk melihat mata panda sebagai petunjuk bahwa pasien sulit tidur atau mencari bekas luka sebagai tanda pasien melukai diri sendiri. Pemeriksaan fisik juga bertujuan untuk melihat adanya tanda-tanda penyakit lain.
  • Selanjutnya, psikiater atau psikolog akan meminta penderita untuk menjalani skrining postpartum depression. Saat menjalani skrining, penderita akan diminta untuk menjawab kuesioner. Pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan gejala-gejala yang dialami pasien serta perubahan pada dirinya.
  • Dokter akan melakukan tes darah untuk mengetahui apakah gejala yang dialami pasien disebabkan oleh kelenjar tiroid yang kurang aktif.

Pengobatan postpartum depression

  • Di samping psikoterapi, dokter juga dapat meresepkan obat-obatan, seperti antidepresan, untuk mengatasi gejala depresi. Namun, penggunaan obat dalam mengatasi depresi ini harus dalam pengawasan dokter, sebab efek samping yang ditimbulkan dapat mengganggu produksi ASI. Durasi pengobatan pada tiap penderita bisa berbeda-beda. Secara umum, pengobatan dapat dilakukan dengan psikoterapi dan obat-obatan, serta dukungan dari keluarga.
  • Sebagai tambahan, psikolog dan psikiater dapat mengedukasi penderita dan keluarganya mengenai kondisi emosional, serta meminta penderita untuk berpartisipasi dalam grup dukungan emosional. Jika diperlukan, dokter juga dapat meresepkan obat antikecemasan dan antidepresan untuk penderita.

 

Komplikasi Postpartum Depression

Komplikasi akibat postpartum depression dapat dialami oleh ayah, ibu, dan anak. Komplikasi ini dapat menimbulkan masalah di dalam keluarga.

  1. Komplikasi pada ibu. Depresi postpartum yang tidak tertangani dan berlangsung lama dapat berkembang menjadi gangguan depresif kronis. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi berat di kemudian hari.
  2. Komplikasi pada anak. Anak-anak dari ibu penderita depresi setelah melahirkan lebih berisiko mengalami gangguan perilaku dan masalah emosional. Akibatnya, anak tidak mau makan, menangis terus menerus, dan kemampuan bicaranya terhambat.
  3. Komplikasi pada ayah. Saat ibu mengalami depresi, ayah juga memiliki kemungkinan yang tinggi untuk mengalami depresi postpartum.

Pencegahan Postpartum Depression

Depresi pasca melahirkan tidak dapat dicegah, namun dapat dideteksi lebih dini. Dengan kontrol rutin saat hamil ataupun pascamelahirkan, dokter dapat memonitor kondisi ibu, terutama jika sebelumnya ibu pernah menderita depresi atau postpartum depression. Jika diperlukan, dokter dapat meminta ibu menjalani konseling bahkan mengonsumsi obat antidepresan untuk mencegah terjadinya postpartum depression, baik pada saat hamil maupun setelah melahirkan.

Yang tidak kalah penting, ibu perlu menjalin komunikasi yang baik, menyelesaikan masalah, atau berdamai dengan pasangan, keluarga, dan teman jika memiliki masalah. Selain itu menjaga diri dengan mencoba mengurangi stres saat hamil juga sangat mempengaruhi kondisi psikologis ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *