Kontrasepsi Darurat Untuk Mencegah Kehamilan

Posted on

Kontrasepsi Darurat

Kontrasepsi darurat merupakan kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan bila digunakan segera setelah hubungan seksual. Hal ini sering disebut dengan kontrasepsi pascasenggama atau morning after pill atau morning after treatment. Istilah kontrasepsi sekunder atau kontrasepsi darurat asalnya untuk menepis anggapan obat tersebut harus segera dipakai/digunakan setelah hubungan seksual atau harus menunggu hingga keesokan harinya, dan bila tidak berarti sudah terlambat sehingga tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Sebutan kontrasepsi darurat menekankan juga bahwa dalam cara KB ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Namun tetap kurang efektif dibandingkan dengan cara KB yang sudah ada. Kontrasepsi darurat tidak boleh dipakai sebagai metode KB secara rutin atau terus menerus.

Kontrasepsi Darurat Mendukung Program Keluarga Berencana

Setiap seorang wanita yang telah menikah tentu akan menghadapi masa kehamilan. Tetapi, bukan berarti itu adalah hal yang mutlak, wanita juga bisa memilih untuk menunda atau langsung memiliki anak. Wanita yang memutuskan untuk tidak ingin hamil secepatnya dapat menggunakan metode pencegahan dengan alat kontrasepsi. Alat kontrasepsi merupakan solusi demi meraih jumlah anak yang diinginkan.

Penggunaan alat-alat kontrasepsi, seperti kondom, pil KB, atau implan KB dapat diandalkan untuk mencegah kehamilan. Namun, jika ibu berhubungan seksual tanpa pengaman atau ketika kalanya alat kontrasepsi tidak berfungsi dengan baik, misalnya kondom mengalami selip atau bocor, terlambat meminum pil KB dari batas waktu yang dianjurkan, dan lupa memasang pengaman implan KB secara rutin dan tepat, maka diperlukan suatu alat kontrasepsi darurat demi bisa mencegah kehamilan.

Manfaat Kontrasepsi Darurat

Selain kegagalan fungsi metode kontrasepsi, wanita korban perkosaan adalah pihak yang membutuhkan kontrasepsi darurat. Serupa dengan fungsi alat atau metode kontrasepsi konvensional, kontrasepsi darurat mengacu kepada upaya pencegahan kehamilan yang dilakukan pada lima hari pertama atau 120 jam sejak berhubungan seksual. Namun perlu diingat, penggunaan kontrasepsi darurat hanya efektif pada beberapa hari pertama setelah hubungan seksual (sebaiknya sebelum 24 jam), jika sel telur belum dilepaskan dari ovarium dan sperma belum membuahi sel telur.

Ada beberapa obat-obatan yang direkomendasikan WHO sebagai alat kontrasepsi darurat, salah satunya adalah levonorgestrel.

  • Kontrasepsi darurat: levonorgestrel

Levonorgestrel berbentuk tablet siap minum. Sediaan levonorgestrel tersedia dua macam yaitu sediaan 1 tablet dan sediaan 2 tablet. Jika ibu membeli sediaan satu tablet, maka dianjurkan untuk meminumnya kurang dari 72 jam atau tiga hari sejak melakukan hubungan seksual. Jika ibu membeli sediaan dua tablet, maka tablet pertama harus segera diminum dalam 72 jam pertama setelah aktivitas seksual dan tablet kedua dikonsumsi 12 jam setelah mengonsumsi tablet pertama.

Ikuti petunjuk di label kemasan alat kontrasepsi dengan baik. Konsultasikan kepada dokter jika informasi yang ibu dapatkan kurang jelas. Apabila terjadi gejala muntah kurang dari dua jam setelah mengonsumsi levonorgestrel, segera hubungi dokter atau bidan. Kemungkinan ibu membutuhkan dosis tambahan. Setelah mengonsumsi levonorgestrel, periode haid dapat datang satu minggu lebih awal atau telat satu minggu dari biasanya. Akan tetapi, jika haid tidak juga muncul setelah satu minggu, segera hubungi dokter untuk memastikan apakah ibu hamil atau tidak.

 

Perlu diketahui bahwa kontrasepsi darurat hanya digunakan untuk kondisi darurat, bukan sebagai pil aborsi. Apabila kehamilan sudah terjadi, kontrasepsi darurat dapat memperkuat janin yang ada di dalam kandungan. Untuk itu, penggunaan KB reguler sepertiĀ  pil, IUD atau KB spiral, implan, atau kondom tetap dianjurkan. Selalu siap sedia kontrasepsi darurat untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *